Ketika Satria Bertasbih
Pagi, 16 Mei 2010 berduyun-duyun massa berkaos merah putih memenuhi Monumen Nasional (Monas) memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Tujuannya indah. Menegakkan 7 Budi Utama dan bertasbih mengagungkan Asmaul Husna disepanjang Monas-Thamrin.
Seolah ingin mengulang sukses gerakan yang sama di tahun 2008 saat lebih dari 25.000 jamaah yang menamakan diri Satria 165 memenuhi Jalan TB Simatupang Jakarta, kini sekitar 50.000 Satria (itu menurut kalim mereka) bertekad memenuhi Thamrin – Jakarta.
Sayang saya sendiri tidak bisa ikutan hadir karena sesuatu hal. Padahal sudah sempat janji pada Uwie sang pentolan panitia dari ESQ-LC untuk ikut meramaikan acara ini. Sorry Wie ya. Tapi selamat deh buat kamu. Rekor 2008 berhasil kamu pecahkan
Tapi apa sih 7 Budi Utama yang mereka perjuangkan sampai rela bercapek ria muterin Monas-Thamrin rame-rame ? Katanya sih mereka punya cita-cita bangsa ini memiliki moral yang Jujur, Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil dan Peduli.
Sepertinya sederhana ya, tapi pasti kenyataannya gak segampang itu tentunya.
Buktinya saya baca di Facebook, mereka yang katanya ingin mencanangkan gerakan ini pada saat jalan sehat Monas-Thamrin masih ada juga yang motong jalan biar lintasannya lebih deket. Dan katanya lagi masih banyak yang buang sampah sembarangan. Trus udah gitu dengan nakalnya saya ikutan komen di Facebook he he…
Sebenernya gak masalah juga kok. Kan tujuannya memang belum terwujud. Yang penting ada upaya, ada inisiatif ada total action kalau menurut istilah mereka. Lantas kenapa ikutan komen ? ah itu kan biar rame aja he he…
Bagaimanapun dari lubuk hati paling dalam saya juga sangat ingin cita-cita mulia itu terwujud. Kenapa ? ya pasti lah. Lagian siapa juga yang berani menolak ketujuh budi utama yang mereka tawarkan ?
Hanya mungkin kali ini saya ingin sedikit berbagi pendapat tentang bagaimana seharusnya ketujuh kata itu diterapkan. Terutama didalam dunia management. Bukan bermaksud mendahului sang penggagas, namun ini hanya sekelumit pandayangan berdasarkan apa yang saya impikan. Dan sekali lagi, saya mencoba untuk bicara dalam konteks management.
JUJUR
Jujur yang ada dalam benak saya, seharusnya bukan hanya diterjemahkan sebagai ‘tidak suka berbohong’. Jujur yang saya bayangkan adalah sebuah sikap moral yang mampu menilai sesuatu apa adanya. Tidak dikurangi dan tidak dilebih-lebihkan. Tidak juga berprasangka. Jujur saat menyatakan yang salah itu salah dan benar itu benar. Jujur yang berani mengakui kesalahan dan bersegera memohon maaf lantas memperbaiki diri. Jujur mengakui kelebihan orang lain. Jujur dalam menilai kemampuan diri, tidak lantas rendah diri dan juga tidak terlalu percaya diri. Karena ‘terlalu percaya’ itu seharusnya hanya ditujukan kepada Allah SWT. Bukan pada diri sendiri.
Dalam konteks management, terkadang kita sulit lepas dari kebiasaan atau sistem lama meskipun sudah sangat terasa bahwa sistem tersebut tidak lagi efisien dan efektif. Apalagi jika sistem tersebut dulunya kitalah yang menciptakannya. Disinilah saatnya seorang pemimpin harus mampu bersikap Jujur dan bersedia menerima perubahan. Harus mampu “melazimkan yang benar, bukan membenarkan yang lazim”.
“seorang yang jujur harus mampu memandang sesuatu dengan bersih, apa adanya, tidak ditambah dan tidak dikurangi, tidak rendah diri, tidak juga terlalu percaya diri, melainkan percaya Allah”
TANGGUNG JAWAB
Tanggung Jawab selalu bedampingan dengan yang namanya amanah. Hingga orang yang bertanggung jawab selalu digambarkan sebagai orang yang mampu menjalankan dan menjaga amanah. Lantas bagaimana dengan si pemberi amanah? Apakah ketika seorang pimpinan menyerahkan amanah kepada bawahannya lantas berarti tanggung jawabnya menjadi berpindah tangan? Tentunya tidak seperti itu. Tanggung jawab yang dilandasi kejujuran seharusnya menjadikan seorang pimpinan mampu memilih kepada siapa amanah bisa diteruskan tanpa dibumbui kepentingan untuk selanjutnya secara konsisten mengawasi dan membimbing bawahannya dalam menjalankan amanah tersebut. Karena ketika terjadi masalah dalam pelaksanaan dibawah, seorang pimpinan harus berani bertanggung jawab dan bersama-sama teamnya segera memperbaiki kesalahan tersebut. Bukannya lantas secara pengecut melemparkan kesalahan tersebut kepada orang lain (jadi inget waktu disemprot Boss gara-gara hal ini he he. Terima Kasih Boss atas bimbingannya).
Itulah mengapa seorang pimpinan harus memastikan seluruh teamnya bekerja dengan benar sebelum dia sendiri memulai pekerjaannya.
VISONER
Kita sudah sering dengar kisah sukses orang-orang yang Visioner. Mulai dari Waltz Disney sampai Bill Gates yang lupa sarapan gara-gara sudah punya Visi yang jelas. Masalahnya, apakah visi yang jelas ini sudah tersampaikan secara jelas juga kepada anggota team ?
Seorang Visioner yang jujur dan bertanggung jawab tentunya siap menyampaikan Visi-visinya secara jelas, gamblang tanpa di kemas dan dibumbui demi menjaga hidden agendanya jangan sampai bocor.
Visi yang tersampaikan dengan jelas, jujur dan bertanggung jawab akan melahirkan Result Oriented Team yang bekerja secara Militan, Konsisten dan penuh keyakinan akan pencapaian target. Tapi sebaliknya Visi yang tidak tersampaikan dengan jelas dan sarat dengan berbagai Hidden Agenda akan melahirkan Team yang penuh curiga, merasa dimanfaatkan dan bekerja setengah hati.
KERJASAMA
Yang hapal 7 Budi Utama pasti protes nih. Soalnya urutannya bukan Kerjasama dulu, tapi Disiplin dulu. Biarin ah. Saya maunya begini. he he
Kalau mau jujur, ternyata kita adalah bangsa yang individualis. Lihat saja prestasi olah raga kita. Cabang olah raga perorangan sering sekali meraih prestasi baik nasional maupun internasional. Contohnya Panahan, Lari maraton, Renang, dan yang paling sering jadi juara adalah Bulu Tangkis Tunggal Putra meskipun Taufik Hidayat dipaksa sujud saat Thomas Cup kemarin.
Tapi bandingkan dengan cabang olah raga keroyokan macam Sepak Bola. Jeblok !
Well mudah-mudahan dengan adanya gerakan 7 Budi Utama hal ini bisa berubah. Semoga.
Kembali ke konteks management, Kerjasama bisa dipadankan dengan budaya Berbagi.
Seorang Pimpinan harus berani mendelegasikan kekuasaannya pada bawahan (Power Sharing). Bayangkan jika ada pimpinan yang tidak mau membagi kekuasaannya, hingga dia menjadi pemegang kekuasaan tunggal (saat gak ketauan Boss yang lebih tinggi tentunya). Betapa bahayanya. Kekuasaan yang tidak didelegasikan akan berpotensi terjadinya penyalah gunaan kewenangan. Sementara pimpinan yang melakukan Power Sharing akan lebih mudah fokus pada tugas-tugas lain yang lebih penting. Kinerja team akan bertambah karena setiap orang dapat dengan leluasa bekerja sesuai kewenangan yang diberikan padanya. Speed pun pasti bertambah pesat karena kekuasaan tidak lagi terpusat pada sang pimpinan.
Sudah bukan jamannya Pimpinan menjadi pusat orbit dimana bawahan hanya harus tunduk patuh pada perintah atasan tanpa boleh dibantah!. Pimpinan yang Jujur, Tanggung Jawab, Visioner dan Mau Bekerja Sama akan selalu membuka peluang bawahannya berkarya dan berprestasi sesuai dengan Visi yang sudah disepakati bersama.
Selanjutnya Kerjasama juga harus dilakukan bersama-sama dalam bentuk saling berbagi Informasi dan Knowledge.
Informasi yang dibagi secara transparan akan menumbuhkan budaya saling kontrol diantara team member. Sementara Knowledge yang dibagi akan meningkatkan kompetensi seluruh Team Member.
Terakhir, kerjasama yang baik tercipta jika perusahaan mau berbagi Reward. Meski Reward dunia bukanlah tujuan utama.
Team Member yang sudah dibekali Spiritualitas mumpuni akan menjadi pekerja yang Militan dengan daya dobrak yang tinggi sebagaimana terlihat pada para satria bertasbih tadi.
Namun Militansi yang tidak diimbangi dengan Reward yang memadai akan melahirkan apa yang disebut sebagai para spiritualis setengah tiang. Malu meminta Reward karena takut dianggap tidak spiritualis, tapi disaat kebutuhan mendesak orientasi kerjanya ternyata hanya untuk Reward belaka.
Kalau sudah begitu, daripada jadi Spiritualis yang materialis, kan lebih baik jadi materialis yang spiritualis. (Lho… apa bedanya …)
Udah dulu ah. Eh, baru 4 Budi Utama. Masih ada 3 lagi. Ya udah, nanti lain kali disambung lagi.
Apapun, semoga masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi 7 Budi Utama bisa terwujud dan menyebar keseluruh dunia. Amin.
Salam Ajaib
karena selalu ada keajaiban setiap hari
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Comments (15)




Hmm.. kalo ngikutin rumusan diatas, pasti bangsa ini bisa lebih maju.
@Chef: Amin, pengennya sih gitu ya.
sip mas Thiar..mudah2an semua personel satria ataupun bukan siap menjadi manusia-manusia yang takut dengan kekuasaan Badi sang penguasa ALam Semesta, Bismillah..
terimakasih banyak mas atas informasinya…
sangat memotivasi sekali,,,
wow..itu yg diajarkan dalam ESQ yah
teori tak semudah praktek nya,..
^_^
ha22… satria yang bagus dan pemberani… eh ga nyambung ya… maaf
makasih ni mas infonya…
oh iya, makasih banyak nih Mas infonya
Wah lengkap banget cuy.
ajaran ESQ ya ? udah baca fatwa mufti malaysia tentang ESQ ?
@Jasa: Yup saya sudah baca berita fatwa itu dan tidak ingin ikutan berpolemik. Ambil yang positifnya saja.
Thanks for Backlinks..
I’m | Not | A | Spammer | Blogger
Lucu juga judulnya,emanya satria itu siapa sih mas.
ayo perlihatkan pada dunia kalau orang indonesia memilki orang orang jujur dan bertanggung jawab