New Wave Marketing = Spiritual Marketing

Sekelumit oleh-oleh dari MarkPlus Conference 2010

markplusKrisis besar yang melanda dunia ekonomi pada tahun 2008-2009 sesungguhnya merupakan bentuk lain dari keruntuhan era kapitalisme.  Hal ini diperkuat oleh Jeffrey Immelt CEO ari General Electric (GE) yang mengatakan bahwa badai krisis yang dilalui telah menyadarkan perusahaan bahwa praktek bisnis secara fundamental harus di format ulang.

Bahwa praktek-praktek yang berlandaskan nilai-nilai dan prinsip yang lebih etis sangat penting untuk dikemukakan dalam menyambut kedatangan “New World Economic Order” mendatang.

Dalam gelombang krisis 2008-2009 dimana dunia bisnis sangat penuh dengan etika bisnis yang compang-camping, sangat terasa bahwa kejujuran merupakan “resources” yang semakin langka bagi perusahaan. Godaan untuk melakukan bisnis secara tidak jujur sedemikian kuat hingga tak banyak perusahaan yang mampu melakukannya.


Apa artinya? artinya bahwa sebenarnya nilai kejujuran yang mulai langka itu sangat bisa untuk di leverage menjadi sebuah komponen penting agar unggul dalam persaingan. Bukankah secara teori ekonomi bahwa jika ada perusahaan yang mampu melakukan sesuatu yang sulit dilakukan oleh perusahaan lain, maka ia akan memiliki daya saing yang kuat? Tidak hanya kuat. Tapi Sustainable dalam jangka panjang.

Dalam paparannya Hermawan Kertajaya menyampaikan bahwa dalam tahun mendatang sangat penting bagi perusahaan membongkar ulang visi misi perusahaannya dan menambahkan satu lagi komponen yaitu : NILAI SPIRITUAL.

Mengapa? karena untuk meraih pelanggan di tahun mendatang tidak cukup lagi hanya dengan menyentuh kebutuhan fisik mereka. Tapi juga harus menyentuh MIND, HEART, dan SPIRIT. Hal ini untuk lebih mendekatkan  produk dengan pelanggannya.

Jika suatu produk mampu menyentuh pikiran (mind) kemudian disukai secara emosional, maka pelanggan ini bukan hanya setia membeli, tapi juga akan menjadi agen yang merekomendasikan produk ini pada orang lain. Kekuatan ini akan lebih bertambah saat nilai spititual yang ditawarkan oleh sebuah produk akhirnya berubah menjadi fanatisme akan produk.

Diawali dengan Visi-Misi yang jelas, kemudian membangun karakter produk yang sarat dengan nilai (value based) dilanjutkan dengan terus menerus mendengarkan keinginan pelanggan sebagai perangkat self-controlling yang ditindak lanjuti dengan perbaikan secara terus menerus serta didukung dengan fasilitas social network yang semakin popular sebagai perangkat strategic collaboration tentunya akan menghasilkan sebuah gelombang fanatisme akan produk itu sendiri.

Kalau sudah begitu, perusahaan tinggal melakukan Total Action dalam setiap langkah bisnisnya dan menjadi raja di era new economic mendatang.

Sebenarnya hal ini sama sekali bukan barang baru. Beberapa tahun lalu ide perusahaan berbasis spiritual telah santer didengungkan lewat berbagai buku seperti Mega Trend 2000, Corporate Mystic, Good To Great. Di Indonesia sendiri sempat beredar buku Best Seller: ESQ yang diikuti dengan rangkaian training fenomenalnya juga sangat gencar mendengungkan ide Spiritual era ini.

Namun entah mengapa tahun 2008/2009 justru banyak perusahaan yang meninggalkan nilai-nilai spiritual dan mengedepankan praktek-praktek kapitalisme. Bahkan perusahaan yang semula sudah berbasis nilai-nilai spiritualpun turut bergeser menjadi “agak” kapitalis. Tak pelak gelombang PHK pun kembali melanda.

Dalam MarkPlus Conference 2010 ini kembali Hermawan Kertajaya mengajak para pelaku bisnis Indonesia untuk melakukan pergeseran mendasar dalam pola bisnis terutama Marketingnya.

Perusahaan harus bertransformasi dari Intelektual (marketing 1.0) menuju emosional (marketing 2.0) dan akhirnya  ke human spirit (marketing 3.0).

Dikatakannya bahwa sehebat apapun strategi bisnis yang dijalankan, secanggih apapun perangkat yang dimiliki, semuanya tidak akan ada gunanya kalau tidak dilandasi nilai-nilai spiritualitas yang kokoh.

Jadi ternyata Marketing 3.0 = Spiritual Marketing

Salam Ajaib
karena selalu ada keajaiban setiap hari

Incoming search terms for the article:

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Tags: ,

Category: Motivasi bisnis

Comments (8)

 

  1. Spiritualitas sebenarnya sudah sejak Nabi Adam menjadi keharusan. Tapi kita sering lupa.

  2. Sifat lupa itu manusiawi bro, makanya harus sering diingatkan, salah satunya dengan tulisan. Masalahnya adalah apakah kita mau menerima dengan lapang dada jika ada yang mengingatkan.

  3. ya, betul sekali.
    Sebuah perusahaan dalam menjalankan bisnis nya bukan hanya di sertai strategi atau perangkat-perangkat lain nya.
    Tapi harus desertai dengan nilai-nilai spiritualitas yang kokoh juga.

  4. kaos couple says:

    setuju..sekarang makin banyak orang yang tidak mau tahu etika bisnis..selalu menekan orang yang lebih lemah/bisnis yang kecil..

  5. kedaiobat says:

    salam,

    bisnis, marketing, sangat menggirukan! namun sangatlah disayangkan bila diimbangi oleh nilai-nilai spiritual. marketing akan bernilai “kotor” dimata orang lain.

    oleh karenanya, artikel ini benar! dgn spiritual marketing, kita dpt menjalankan sesuatunya dgn lebih baik dan manusiawi..

    trims ya, by Kedai Obat

  6. onyenk says:

    New Wave Marketing = Spiritual Marketing is good

  7. setuju..sekarang makin banyak orang yang tidak mau tahu etika bisnis..selalu menekan orang yang lebih lemah/bisnis yang kecil…….

  8. Spamming says:

    Thanks for backlinks :D
    I’m | Not | A | Spammer | Blogger

Leave a Reply